Writen by
Unknown
Senin, Januari 11, 2016
-
0
Comments
Poker Online Indonesia - WARGA Jerman selama ini menganggap serangan teror sebagai masalah keamanan dalam negeri paling gawat. Tapi setelah pelecehan seksual massal terjadi di Koln pandangan berubah drastis. Peluang menjadi korban serangan teror radikal Islam di Koln atau di kota manapun di Jerman, ternyata amat kecil. Tapi realitanya sejak bertahun lamanya, mayoritas warga Jerman takut serangan teror ini. Tentu saja ketakutan emosional semacam ini bisa dipahami, jika melihat bagaimana kebrutalan serangan teror yang terjadi di Paris tahun silam.
Gambar-gambar mengerikan dari serangan serupa sebelumnya di New York, London atau Madrid masih terpatri di benak warga di barat. Pasalnya negara itu ada di depan pintu rumah mereka, tidak seperti Afghanistan, Suriah atau Nigeria yang secara geografis jauh dan secara budaya serta religi tidak mereka kenal.
Jerman, dalam ukuran dunia adalah salah satu negara paling aman. Baik dari ancaman eksternal maupun internal. Tapi sekarang perlu membicarakan situasi secara lugas, tanpa mengindahkan lagi tema yang selama ini tabu untuk dibahas.
Setelah kasus pelecehan seksual massal pada malam tahun baru di berbagai kota di Jerman, tema ini kembali memanas. Itu bagus! Sebab kini masalah kriminal yang merendahkan martabat manusia semacam itu bisa diperdebatkan secara terbuka. Delik yang sebetulnya tidak baru.
Selama ini bepergian malam hari menggunakan kendaraan umum, bagi mayoritas perempuan Jerman bukan masalah serius. Tapi setelah kasus pelecehan seksual massal di malam tahun baru, beberapa waktu lalu, bukan hanya di kota Koln saja, semua berubah. Agar kepercayaan pada keamanan dalam negeri kembali tumbuh, harus dilakukan reformasi. Gagangnya ada di tangan anggota masyarakat.
Siapa melakukan kejahatan harus dihukum. Untuk itu tidak perlu aturan baru, melainkan cukup dengan penerapan hukum yang sudah ada. Hal itu juga mencakup pengusiran pelaku kejahatan warga asing, jika persyaratan hukumnya dipenuhi. Hal ini tidak ada kaitannya dengan perasaan anti orang asing. Melainkan masalah aturan di negara hukum. Pelaku kejahatan dengan kewargaan Jerman harus diseret ke pengadilan dan meringkuk di penjara. Begitu gampang secara teoritis.
Hukuman adalah bagian penting dari keamanan dalam negeri. Hal ini membangkitkan perasaan, bahwa kejahatan apapun bentuknya, tidak akan lepas dari tuntutan hukum. Masalahnya, kuota dari pengungkapan perkara secara umum, amatlah kecil.
Tren ini hanya bisa diubah, jika negara benar-benar menginvestasikan dana untuk keamanan dengan bijaksana pada posisi yang tepat. Di garis depan, adalah lebih banyak polisi di tempat keramaian umum. Merekalah yang layak mendapat dukungan dan penghargaan material dan moral.
Picu Sentimen
Belasan perempuan digerayangi dan dilecehkan oleh pemuda berwajah Arab saat perayaan tahun baru di Jerman. Pelakunya berjumlah ratusan. Insiden tersebut memicu lagi perdebatan sengit mengenai pengungsi.
Malam bergerak cepat jelang pergantian tahun, saat ribuan berpesta di depan stasiun kereta kota Koln, Jerman. Aroma petasan dan kembang api menggelayut di udara. Segalanya terkesan lumrah, kecuali teriakan dan isak tangis perempuan yang sayup sayup terdengar dari kerumunan massa.
Tidak seorangpun menyangka perayaan yang selalu menyedot penduduk untuk turun ke jalan itu bakal menyisakan trauma. Anggota kepolisian yang bergegas, mendapati beberapa remaja perempuan yang menjadi korban "kejahatan dengan dimensi yang belum pernah kami lihat sebelumnya," tutur Menteri Kehakiman Jerman, Heiko Maas beberapa hari kemudian.
Mereka, perempuan muda di awal usia 20an, dikerubungi oleh belasan hingga puluhan laki-laki berparas timur. Tas, ponsel dan benda berharga lain dirampas. Tubuh mereka "digerayangi". Seorang mengaku "celana dalamnya dibuka paksa". Yang lain masih dirawat karena "diperkosa". Sudah hampir 100 pengaduan pelecehan seksual dan perampasan harta benda masuk ke kantor polisi Koln.
"Apa yang mereka alami adalah horror," tutur seorang polisi kepada media.
Berbagai keterangan saksi mata menyebut pelakunya adalah laki-laki bertampang Arab yang diduga kuat berasal dari Afrika Utara dan berjumlah 300 hingga 500 orang. Kebanyakan dalam kondisi mabuk. Setelah saling melempar petasan, mereka lalu berpencar dalam grup besar buat mencari korban dalam temaram malam tahun baru.
Menteri Kehakiman Maas menyebut apa yang terjadi di Koln pada malam pergantian tahun itu "kejahatan yang terorganisir". Kanselir Angela Merkel mendesak kepolisian agar secepat mungkin "menyeret mereka ke pengadilan, dan menghukum berat. Terlepas dari latarbelakang negara asalnya."
Kanselir Merkel berupaya membatasi insiden di Koln pada sisi hukum semata, karena asal usul pelaku justru sedang memicu perdebatan sengit tentang pengungsi di Jerman. "Lama menjadi tabu, tapi kami harus mulai membahas norma dominasi lelaki di dalam tradisi Muslim," tulis Bekas Menteri urusan Perempuan Jerman, Krstina Schroder di Twitter.
Selasa (5/1/16) ratusan orang berdemonstrasi di depan Kathedral Koln. Beberapa membawa spanduk yang salah satunya bertuliskan, "Merkel, apa yang anda telah perbuat? Ini mengerikan." Ironisnya, insiden Koln tidak cuma digunakan kaum ekstrim kanan buat menggiring opini publik ihwal pengungsi, melainkan juga oleh kaum konservatif, antara lain beberapa punggawa partai Kristen Demokrat pimpinan Merkel sendiri.
Sebab itu pemerintah Jerman berupaya sebisanya meluruskan arah perdebatan. Menteri Dalam Negeri Thomas de Maiziere menghimbau agar masyarakat tidak menimpakan kesalahan pada pengungsi, "yang mencari perlindungan di sini, entah dari negara manapun." (dwc/ar
By : Poker Online Indonesia


Tidak ada komentar
Posting Komentar